Pages

Subscribe:

Kamis, 13 Desember 2012

Resensi Novel 9 Summers 10 Autumns

    • Judul buku : 9 Summers 10 Autumns : “Dari Kota Apel ke The Big Apple”
    • No. ISBN  : 978-979-22-6766-2
    • Penulis  : Iwan Setyawan
    • Penerbit  :  Gramedia Pustaka Utama
    • Tahun terbit :  201
    • Tempat terbit : Jakarta
    • Tebal  :  238 Halaman
    • Dimensi  :  13.5 x 20 cm
          Iwan Setyawan lahir di Batu, 2 Desember 1974. Lulusan terbaik fakultas MIPA IPB 1997 dari Jurusan Statistika ini bekerja selama tiga tahun di Jakarta sebagai data analis di Nielsen dan Danareksa Research Institute. Ia selanjutnya merambah karir di New York City selama 10 tahun. Pencinta yoga, sastra, dan seni teater ini meninggalkan NYC Juni 2010 dengan posisi terakhir sebagai Director, Internal Client Management di Nielsen Consumer Research, New York. 9 Summers 10 Autumns adalah novel pertama yang terinspirasi dari perjalanan hidupnya sebagai anak seorang sopir di Kota Batu ke New York City. Buku pertamanya Melankoli Kota Batu berupa kumpulan fotografi dan narasi puitis, didekasikan untuk Kota Batu. Iwan saat ini tinggal di Batu, Jawa Timur.

          Saat ini, novel-novel berdasarkan kisah nyata penulisnya telah banyak beredar, mulai dari novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata sampai yang baru terbit terakhir, novel Negeri 5 Menara karya A. Fuadi. Jadi mungkin saja terjadi pengasumsian bahwa novel ini akan bergaya sama dengan novel-novel sejenis yang lebih dulu terbit. Saya khawatir, buku “9 Summers 10 Autumns” ini memiliki pola bercerita yang sama dengan Andrea Hirata. Tapi ternyata, novel ini mampu lepas dari pengaruh tulisan Andrea Hirata.

          Bagi teman-teman yang sedang sekolah maupun bekerja, dan ingin membaca novel fiksi yang berdasarkan kehidupan nyata dan terlepas dari pengaruh tulisan Andrea Hirata, novel ini mungkin bisa jadi alternatif untuk teman baca di akhir tahun seperti ini. Inspirasi dan semangat bisa datang darimana saja, termasuk dari sebuah buku.

          Di kaki Gunung Panderman, di rumah berukuran 6 x 7 meter, aku bermimpi. Kelak, aku akan membangun kamar di rumah mungilku. Hidup bertujuh dengan segala sesuatu yang terbatas, membuatku bahkan tak memiliki kamar sendiri.

          Bapakku, sopir angkot yang tak bisa mengingat tanggal lahirnya. Sementara ibuku, tidak tamat Sekolah Dasar. Aku tumbuh besar bersama empat saudara perempuan. Tak ada mainan yang bisa ku ingat. Tak ada sepeda, tak ada boneka, hanya buku-buku pelajaran yang menjadi "teman bermain"-ku. Di tengah kesulitan ekonomi, bersama saudara- saudaraku, aku mencari tambahan uang dengan berjualan di saat bulan puasa, mengecat boneka kayu di wirausaha kecil dekat rumah, atau membantu tetangga berdagang di pasar. Pendidikanlah yang kemudian membentangkan jalan keluar dari penderitaan. Dan kesempatan memang hanya datang kepada siapa yang siap menerimanya. Dengan kegigihan, anak Kota Apel dapat bekerja di The Big Apple, New York. Sepuluh tahun mengembara di kota paling kosmopolit itu membuatku berhasil mengangkat harkat keluarga sampai meraih posisi tinggi di salah satu perusahaan top dunia. Namun tak selamanya gemerlap lampu-lampu New York dapat mengobati kenangan yang getir. Sebuah peristiwa mengejutkan terjadi dan menghadirkan seseorang yang membawaku menengok kembali ke masa lalu. Dan pada akhirnya, cinta keluargalah yang menyelamatkan semuanya.

          Pertama kali yang menjadi kelebihan dari novel ini adalah cover dan sinopsis bagian belakang buku ini. Penampilan cover yang sederhana dan sub judul “Kisah anak sopir angkot dari Kota Batu yang menjadi direktur di New York City” membuat orang penasaran ingin membacanya. Di bagian dalam novel, saya terkesan dengan kemampuan mengolah percakapan yang dilakukan si penulis, Iwan Setyawan. Iwan begitu cerdik karena membuat tokoh khayalan, yaitu anak kecil berseragam merah putih sebagai lawan bicaranya untuk membuat dialog agar cerita tidak terasa monoton dan bisa langsung tersambung ke bagian masa lalu yang ingin ia ceritakan.

          Pilihan kata yang apik juga membuat saya terbuai dengan novel ini sehingga saya ingin mengetahui ada apa di cerita selanjutnya. Penyisipan quote-quote dari buku favorit si penulis sendiri juga menarik. Banyak quote- quote bagus yang menginspirasi saya. Isi novel ini juga menginspirasi saya untuk mempunyai sebuah cita-cita walaupun kecil, yaitu memiliki sebuah kamar untuk diri sendiri.

          Di dalam novel ini juga terdapat banyak pesan tersirat bahwa keluargalah yang akan selalu mendukung apapun keputusan kita dalam keadaan sesulit apapun. Bahwa bersama keluarga, kita bisa mengarungi samudera seluas apapun, seperti yang dilakukan Iwan yang ditawari bekerja di luar negeri dan karena dukungan dari keluarganya, ia berani menerima tantangan itu dan menjadi sukses karenanya.

          Namun, dalam novel ini juga terdapat beberapa kekurangan. Penggunaan bahasa asing seperti bahasa Inggris yang tidak disisipi terjemahan Bahasa Indonesianya membuat pembaca yang kurang mengerti bahasa Inggris menjadi bingung. Alur yang digunakan, yaitu alur maju mundur yang diaplikasikan di setiap bab membuat pembaca menjadi cepat bosan.

          Mudah ditebak mau dibawa kemana ceritanya. Dari awal bercerita tentang dirinya, Bapak, Ibu, saudari-saudarinya, dan tentunya ini seperti biografi singkat Iwan Setyawan dalam bentuk fiksi. Serta, kita dibuat berekspektasi bahwa buku ini dapat memompa semangat seorang anak dari keluarga kurang mampu untuk mengejar cita-citanya, namun, justru buku ini hanya menceritakan pengalaman hidup Iwan, si penulis, dari kecil hingga ia mendapatkan posisi sebagai Direktur Internal Client Management di Nielsen Consumer Research, New York.

          Novel ini menggunakan gaya bahasa yang indah bagai puisi, namun mudah dipahami tanpa kesan bertele-tele. Penuturan yang simpel, cukup lugas dan jujur, serta dengan representasi yang menarik membuat novel ini lebih mudah diterima pembaca, sehingga mampu melahirkan kesan positif yang mendalam di hati pembaca.

          Novel 9 Summers 10 Autumns ini mempunyai nilai kekeluargaan yang kuat, memuat cerita yang penuh inspirasi dan semangat. Jadi, jika Anda ingin membaca novel fiksi yang berdasarkan kehidupan nyata penulisnya, serta ingin mendapatkan banyak inspirasi dan semangat, saya sarankan untuk membaca novel ini.


0 komentar:

Poskan Komentar